Kamis, 10 Juni 2010

BANI UMAYYAH

Pertumbuhan dan Basis Sosial Dinasti Mu’awiyah
Dalam masa kekuasaan Bani Umayyah, pemerintahan yang bersifat demokratis berubah menjadi monarchiheridetis (kekuasaan yang bersifat dinastik atau turun temurun). Sistem ini meniru sistem monarchi di Persia dan Bizantium.
Kekuasaan Mu’awiyah diperoleh dengan :
Kekerasan
-Diplomasi
-Tipu daya
Suksesi dinastik dimulai ketika Mu’awiyah mewajibkan rakyat untuk setia terhadap Yazid (anaknya). Namun dlm hal ini Mu’awiyah tetap menggunakan istilah "khalifah". Dia menyebutnya "khalifatullah" (penguasa yg diangkat Allah).

Masyarakat pada masa Mu’awiyah dibagi ke dlm 4 kelas sosial utama.
Masyarakat elit, orang2 Arab Muslim
Status istimewa diberikan kpd sahabat Nabi
-Muslim non Arab (mawali), mereka tetap harus membayar
pajak meski sudah memeluk Islam.
-Dzimmi, rakyat non Muslim Ahl Kitab. Dan kemudian diper-
luas kpd menganut Hindu dan Budha.
-Budak, sistem perbudakan diadopsi dg bentuk yg termodi-
fikasi. Hanya orang yang ditahan dlm peperangan saja yg
dpt diambil sebagai budak.
Sistem Kepemimpinan, Karakter Tradisi dan Peradaban Muslim era Mu’awiyah
Tampilnya kekuasaan Umayyah menggerakkan suatu proses ekspansi berlanjut dan sentralisasi kekuasaan yng mengubah umat Islam dari suatu syeikhdom menjadi kerajaan yg para penguasanya tergantung pd agama untuk legitimasi dan kpd militer untuk kekuatan dan stabilitas.
Pd th 661 Mu’awiyah (661-680) mendpt klaim kekhalifahan dan memulai zaman Umayyah (661-750) : zaman imperial, dinastis, dan didominasi oleh aristokrasi militer Arab.
Ibukota pemerintahan dipindah ke Damaskus dan menjadi simbol imperium baru dg perubahan permanen dr jantung tanah Arabia yg kurang modern ke kota Bizantium Yunani-Romawi yg kosmopolitan. Dari pusat baru ini, Dinasti Umayyah melengkapi penalukkan atas seluruh Persia dan separuh kekaisaran Romawi (Bizantium)

Ketika Mu’awiyah mengambil alih kekuasaan (dari Ali bin Abu Thalib) Islam telah siap tersebar ke Mesir, Libia, Syiria, Irak dan Persia, menyeberang ke Armenia sampai perbatasan Afghanistan.
Dibawah komando Umayyah, kaum Muslim menaklukkan Maghrib (Afrika Utara), Spanyol, Portugal hingga Perancis.
Ketika berhasil menaklukkan Bizantium, pemerintahan, lembaga dan birokrasi Bizantium yg lebih maju diadopsi dan disesuaikan dg kebutuhan Muslim Arab.
Para pembantu sipil dan menteri-menteri pribumi dipertahankan untuk membimbing dan dan melatih tuan-tuan Muslim mereka.
Disinilah kemudian terjadi proses konversi dan asimilasi, bahasa dan kebudayaan, negara dan masyarakat, di-Arab-kan dai di-Islam-kan. Bhs Arab menjadi bhs pemerintahan dan bahasa antar bangsa (lingua franca) di wilayah --- yg kini disebut --- Afrika Utara dan Timur Tengah.

Disamping ekspansi kekuasaan, Bani Umayyah juga berjasa dlm bidang yang lain.
Mu’awiyah berjasa mendirikan dinas pos dan tempat2 tertentu dg menyediakan kuda yg lengkap dg peralatannya di sepanjang jalan. Selain itu juga mencetak uang dan menertibkan angkatan bersenjata. Dalam bidang hukum diangkat khusus seorang hakim (qadhi) dan merupakan profesi tersendiri.
Abd al-Malik mengubah mata uang Bizantium dan Persia dg mata uang yg memakai kata-kata dan tulisan Arab. Memberlakukan bahasa Arab sbg bhs administrasi pemerintahan Islam.
Al Walid bin Abd al-Malik membangun panti orang cacat dan pengelolanya digaji secara tetap. Juga membangun jalan raya penghubung, pabrik, gedung pemerintahan dna masjid-masjid yg megah.
Kemunduran Dinasti Mu’awiyah
Terlepas dari berbagai keberhasilannya, salah satu faktor yg melemahkan kekuasaan Dinasti Mu’awiyah adalah tidak mentaati perjanjian dengan Hasan ibn Ali ketika naik tahta yg menyebutkan bahwa persoalan penggantian pemimpin setelah Mu’awiyah diserahkan kepada pemilihan umat Islam.
Pengangkatan Yazid sbg putra mahkota menyebabkan munculnya gerakan oposisi dikalangan masyarakat yg mengakibatkan perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.
Ketika Yazid naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Shg Yazid pun mengirim surat kpd gubernur Madinah untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya
Semua penduduk Madinah kemudian tunduk, kecuali Husein bin Ali dan Abdullah ibn Zubair.
Kaum Syiah (pengikut Ali) pun mengkonsolidasikan kekuatannya kembali. Maka Husein ibn Ali pun berpindah dari Makkah ke Kufah atas permintaan golongan Syiah di Irak. Umat Islam di daerah ini tidak mengakui Yazid dan mengangkat Husein sbg khalifah (muncullah perang Karbalah, dimana tentara Husein kalah dan Husein sendiri terbunuh). Kepalanya dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedangkan tubuhnya dikubur di Karbala.


Selain melawan dengan peperangan, tidak sedikit umat Islam yang kecewa dg Bani Umayyah dg melakukan gerakan reformasi non-revolusioner.
Sekelompok besar kritikus membandingkan perbedaan mencolok antara komunitas Islam Madinah yg diimpikan dg realitas kehidupan Umayyah. Maka dlm hal ini tumbuh dua gerakan atau lembaga Islam, "ulama" (para ilmuwan agama) dan para "sufi" (kaum mistik).
Kritik, refleksi dan obyektifikasi
Disamping prestasi pemerintahan Umayyah, sejak abad kedelapan (720) sentimen anti Umayyah mulai menyebar dan menguat. Diantaranya :
Muslim non Arab (mawali) yang memprotes status sosial mereka.
Kaum Khawarij dan Syiah menganggap Umayyah sbg penyerobot kekuasaan.
Muslim Arab Makkah, Madinah dan Irak merasa tersinggung atas status istimewa keluarga2 Syiria.
Kaum Muslim yg taat (Arab dan non Arab) memandang gaya hidup baru yg kosmopolitan telah menyimpang dr pandangan hidup Islam mereka.
Sejak tahun 747 dg dukungan yg berarti dari kaum Syiah, gerakan oposisi bersatu di bawah Abu Muslim, seorang budak Abasiyah yg telah merdeka. Th 750 Umayyah jatuh dan Abu Abbas (keturunan dari paman nabi, al-Abbas) dinyatakan sebagai khalifah.
Ibukota dipindah dari Damaskus ke Baghdad (kota perdamaian).
Poskan Komentar