Jumat, 06 November 2009

ALIRAN - ALIRAN FILSAFAT MODERN

ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT MODERN

PENDAHULUAN
Kemunculan filsafat modern sebetulnya seiring dengan zaman baru atau "renaisance" dalam Istilah Barat, sekitar abad 15 dan 16 di masa abad pertengahan. Renaisance berarti kelahiran kembali; yaitu usaha untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik (Yunani-Romawi). yang paling penting dari masa ini adalah timbulnya ilmu pengetahuan Alam yang modern berdasarkan eksperimental dan matematis. Perintis jalan baru untuk perkembangan ilmiah modern adalah Leonardo Da Vinci (1452-1519), Nicolas Copernicus (1473-1543), Johanes Kepler (1571-1630) dan Galileo (1564-1643).
Bapak filsafat modern adalah Rene Descartes (1596-1650), bahkan setiap filosof modern merupakan pengikutnya. prinsip Cagito ergo sum (saya berfikir, maka saya ada) menjadi inspirasi pemikiran yang banyak melahirkan banyak philosophy-rasionalisme, meskipun masing-masing memiliki karakter spesialisasi tersendiri. sebut saja Niestze, dengan eksisitensialisnya menekankan kehendak berkuasa; Freud mengiisyaratkan insting seksual dan menunjuk naluri ekonomi sebagai inti kodrat manusia.
Filsafat modern sangat mengagungkan rasionalisme dan empirisme (materialisme). menurut Thomas Kuhn, keduanya adalah paradigma sains, tapi bagi John Dewey seorang filosof Amerika apabila rasionalisme dan empirisme dikawinkan dapat membuahkan pemikiran ilmiah modern. ini menjadi karakter dan stigma yang cukup kuat dalam istilah modernisasi sampai saat ini.

ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT MODERN

1. Rasionalisme
Kata rasionalisrn, terdiri dari dua suku kata, yaitu "rasio" yang berarti akal atau pikiran, dan "isme" yang berarti paham atau pendapat. Rasionalisme ialah suatu paham yang berpendapat bahwa “kebenaran yang tertinggi terletak dan bersumber dari akal manusia”
Oleh karena itu, rasio dipandang kecuali sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan/kebenaran, juga sekaligus sebagai sumber pengetahuan/kebenaran.
1.Rene Descartes (1596-1650)
Peletak fondasi aliran ini ialah Rene Descastes (Certa¬sius/1596-1650) yang digelar sebagai "Bapak filsafat mo¬dern". Descartes berasal dari Perancis, lahir tahun 1596 di sebuah kota bernama La Haye, dan wafat tahun 1650 di Stockholm. Karya pentingnya ialah Discours de la Methode (Uraian tentang Metode), terbit tahun 1657; Mediationes de Prima Philosophic (Renungan Tentang filsafat), terbit tahun 1641; dan Principia Philosophic (Prinsip-prinsip Filsafat), ter-bit tahun 1644.
Semboyan dari aliran ini ialah ungkapan Descastes yang berbunyi: Cogito ergo sum/ think there fore I'm (saya berpikir maka saya ada).
2. Spinoza (1632-1677)
Berbeda dengan Descartes, sesuai dengan semboyannya "Deus sen Nature" (Tuhan atau alam), Spinoza adalah seorang rasionalis yang mistik. Pemikiran mistiknya ditan¬dai dengan konsep hubungan Tuhan-manusianya yang pantesistik. Menurut Spinoza, seluruh kenyataan meru¬pakan kesatuan, dan kesatuan sebagai satu-satunya sub¬stansi sama dengan Tuhan atau alam. Segala sesuatu termuat dalam Tuhan-alam. Tuhan sama dengan aturan kosmos, Kehendak Tuhan berarti sama dengan kehendak alam, sehingga hokum-hokum alam sama dengan kehen¬dak Tuhan.
2.Empirisme

Tokoh dan Pemikirannya
1.john Locke (1632-1704)
Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap aliran rasional¬isme. Apabila rasionalisme mengatakan bahwa dasar dari satu kebenaran adalah rasio, maka menurut empiris, dasarnya ialah pengalaman manusia yang diperoleh melalui panca indra. Dengan ungkapan singkat, Locke mengatakan:
Segala sesuatu berasal dari pengalaman indrawi, bukan budi (otak). Otak tak lebih dari sehelai kertas yang masih putih, barn melalui pengalamanlah kertas itu terisi.
2. David Hume (1711-1776)
pemikiran empirisnya terakumulasi dalam ungkapannya yang sangat singkat, yaitu:
I never catch my self at any time with out a perception
Saya selalu memiliki persepsi pada setiap pengalaman saya.

Filsuf ini tergolong dan berkembang pada abad 18 yang berasal dari Inggris, seclang Rene Descartes berasal dari Perancis dan John Locke yang berasal dari Inggris yang hidup pada abad 17. pemikiran Rene Descartes termasuk dalam kelompok "zaman barok" sedang John Locke dan David Hume termasuk dalam kelcmpok "fajar budi" atau "Afklaarung".
3. Immanuel Kant (1724-1804)
Pemikirannya terekam dalam enam karya pentlnfInya, yaitu Kritik der reinen Vernunft (Kritik atas Rasio Murni), terbit tahun 1781; Kritik Der Praktischen Vernunft (Kritik atas Rasio Praktis), terbit tahun 1788; Kritik Der Urtheilskraft (Kritik atas Daya Pertimbangan), terbit tahun 1790; Grun¬dlegung Zur Metaphysik Der Sitten (Pedoman Metafisika Moral), terbit tahun 1785; Die Religion Innerhalb Den Grenzen Der Blossen Vernunft (Agama dalam Batas-batas Hanya Rasio Saja), terbit tahun 1793; dan Methaphysik Der Sitten (Metafisika Moral), terbit tahun 1797.
Untuk menghilangkan pertentangan di antara rasionalisme dan empirisme, Kant mengadakan pemaduan di antara dua aliran ini dalam hal perumusan kebenaran. Dalam kaftan ini Kant mengatakan:
pengetahuan merupakan basil kerjasaina dua unsur; pengalaman dan kearifan akal budi. Pengalaman indera7vi merupakan unsur a posteriori (yang datang kemudian), sedangkan akal budi meru¬pakan unsur a-priori (yang datang lebih dahulu).

3. Idealisme
Tokoh dan pemikirannya
1. Johann Gottlieb Fichte (1762-1814)
Beliau lahir di Rammenan, jerman tahun 1762 dan wafat tahun 1804 di Berlin. Keahlian Fiche dalam bidang filsafat dapat dilihat pads tiga karya pentingiiya, yaitu Ucber die Bestimmung des Menschen (Tentang Tujuan Hidup), terbit tahun 1780; Grunlage der Gaseniten Winssenchafslehre (Dasar Seluruh Epistemologi), terbit tahun 1796; dan Das System der Sitterile,hre nach den Prinzipien der Wissenschaftslehre (Sistem Etika menurut Prinsip-prinsip Epistemologi), terbit tahun 1798.
Fichte adalah tokoh idealisme subyektif, yaitu pandangan bahwa sumber pengenalan/pengetahuan bukanlah rasio teoritis atau praktis, seperti kata Immanuel Kant, melainkan pada aktivitas Ego. Pemikiran beliau didasarkan pada kon¬sep Ego Mutlak; yang menemukan dan meneruskan pengertian-pengertian tentang obyek; ego tidak hanya se¬bagai "penemu", melainkan kata Fichte sekaligus sebagai yang "menciptakan bends-bends" (obyek).10 Dengan demikian, peran manusia sebagai subyek sangat dom-man di dalam menggagaskan sesuatu.
2.Friedrich Wilhelm josep Van Schelling (1775-1854)
Beliau seorang filsuf Jerman lahir di Gonberg tahun 1775 dan Wafat di Swiss tahun 1854. Selain filsuf, Schellir- juga ahli ilmu alam.

Semboyannya yang paling populer ialah:
Wir haben sine alters offenbarung als jede geschriebent,
Kita mempunyai wahyu yang lebih tua dari yang tertulis, yaitu alam
Melalui semboyan ini Schelling bersiteguh bahwa alamlah sumber pengetahuan, kecuali yang paling tua, sekaligus sebagai yang paling akurat.
3.Hegel (1770-1831)
Hegel adalah tokoh Idealisme Mutlak, yang sangat ber¬peran bagi penyem-purnaan idealisme. Hegel berhasil menampilkan idealisme yang terpadu setelah dikoyak¬koyak oleh Fichte dan Schelling. Apabila Fichte bersifat subyektif dan Schelling bersifat obyektif, maka Hegel meli¬hat secara keseluruhan (totallitas). Hegel mengatakan:
Das wahre ist das gauze
Yang benar itu yang menyeluruh).
jika idealisme dapat dikaitkan dengan kajian etika, maka idealisme dapat dibagi menjadi tiga bahagian, yaitu:

1. Idealisme rasionalistik, yaitu yang mengacu idealisme pada intensitas penggunaan rancang bangun budi un¬tuk mengetengahkan norms-norms, yaitu yang baik dan yang buruk
2. Idealisme estetik, yaitu idealisme yang didasarkan pada upaya penyelarasan di antara manusia sebagai subyek dan keindahan sebagai obyek.
3. Idealisme etik, yaitu pandangan bahwa manusia pada hakikatnya telah merniliki kesadaran etik dan sekaligus berupaya mengerjakannya.

4. Materialisme
Berasal dari kata "materi" yang berarti benda. Materialisme adalah suatu aliran filsafat yang berpendapat bahwa, kebenaran tidaklah ditentukan oleh gambaran, melainkan oleh benda dan seluru-h kenyataan yang ada dirumuskan dan ditentukan oleh benda. Filsafat materialisme terkait erat dengan Democritos de¬ngan teori atomnya.
Di dalam perkembangan selanjutnya, materialisme terbagi kepada dua bagian, yaitu :

1. materilisme fisiologi,yang membicarakan unsure dari materi. Dalam kaitan ini terbagi pada dua bagian lagi

a.Dualisme, yang menjelaskan bahwa manusia terdiri dari dua unsur yangberbeda, yaitu jasmani dan rohani. Keduanya berasal dari atom-atom sesuai dengan karakternya. Atom rohani lebih halus dibanding atom jasmani.
b.Monisme, yaitu aliran yang menganggap hanya jasad¬lah yang mempunyai materi (atom) sedang jiwa tidak mempunyai wujud apa-apa. Roh hanyalah pemuncu¬lan (margentisme) dari materi/jasad.

2. Materialisme sosiologi, yang menganggap bahwa perubah¬an kebudayaan dan kehidupan manusia terjadi disebabkan oleh keadaan sosial, sedangkan rohani hanya pemunculan (margentisme) dari kondisi sosial ekonomi masyarakat. Ma¬terialisme inipun terbagi kepada dua, yaitu :

a. Dialektis, yaitu setiap materi pada dirinya mengan¬dung adanya pertentangan dan perubahan, dari per¬tentangan tersebut muncullah wujud (materi) lain sebagai bentuk baru.
b. Historis, yaitu pandangan bahwa sejarah kemanusiaan selalu mengalami perubahan sesuai dengan pola dialektis di atas.
Tokoh dan Peinikirannya Karl Marx (1818-1883):
Di antara pemikirannya ialah:
1. A g a m a
Kaum Marxis (pengikut Marx) tidak mengakui adanya agama sebagai yang absolut, karena agama itu sendiri mun¬cul dari keinginan-keinginan (harapan-harapan) kaum pesimis. Oleh karena itu agama adalah buatan manusia semata, sehingga agama merupa'-an candu dari manusia. Sebab itulah kelompok ini dikate¬gorikan sebagai ateis, yaitu mereka yang tidak memper¬cayai Tuhan.
2. Masyarakat
'Fujuan utama Marxisme ialah mendirikan masya rakat baru yang berbeda dengan masyarakat sebelumnya. Apabila masyarakat sebelumnya dikendalikan oleh kelompok kecil (raja, pendeta), maka masyarakat kaurn Marxis ialah seba¬gai sorga dunia, dikendalikan oleh kaum buruh yang dise¬but dengan "Diktatur Proletar".

5. Positivisme
Menurut aliran ini, pemikiran manusia mengalami perkembangan, mulai dari yang sangat sederhana, sampai yang modern, yaitu positif. Pada tahap ini manusia hanya memper¬cayai yang riil saja berdasarkan ilmu positif (science positive) yang didasarkan pada pengamatan (observasi) clan percobaan lang¬sung (eksperimentasi). Melalui dua pembuktian ini, segala yang berbau metafisis dibuang, karena tidak bisa dibuktikan dengan dua pendekatan tersebut.
Tokoh dan Pemikirannya
1.Auguste Comte (1798-1857)
pemikiran Comte yang dikemas dalam Positivisme meliputi dua hal pokok, yaitu manusia dan Tuhan

a.Manusia,
manusia berkembang melalui tiga tahap, yang disebut dengan Hukum Tiga Tahap sebagai berikut :
1. Tahap teologi
2.Tahap metafisika.
3. Tahap positif.
Ketiga perkembangan ini jika dibandingkan dengan perkembangan manusia dapat diilustrasikan dengan tahap teologi sebagai tahap anak-anak, tahap metafisik ialah ta¬hap remaja, dan tahap positif sebagai tahap dewasa. Pada tahap anak-anak, manusia dalam tinciakannya dilakukan secara sporadic tanpa pertimbangan. Pada tahap remaja penuh dengan goncangan, sesuai dengan kondisi kejiwaan¬nya yang pancaroba. Sedangkan pada tahap dewasa penuh dengan pertimbangan dan kebijaksanaan, dengan dukung¬an sains dan teknologi yang dimilikinya.
b.Tuhan
Sebagai konsekuensi dari pemikiran tentang perkembang¬an pemikiran manusia di atas, maka konsep Tuhan juga mengalami perkembangan dari percaya/teis (tahap teologi) kepada raga/skeptic (metafisik) dan berakhir pada tidak percaya/ateis (tahap positif). Pada tahap positif manusia tidak lagi mempercayai Tuhan yang abstrak, karena suatu kebenaran harus bisa dibuktikan secara riil (obyektif) melalui pendekatan ilmiah, yaitu pengamatan (observasi) dan penelitian (eks prim en tasi). (The new l•ioigion based on Comte's positive science).

6. fenomenologi

Tokoh dan Pemikirannya
1. Edmund Husserl (1859-1938)
Pemikiran terpentingnya ialah:
a.Teori kebenaran
menurut Husserl kebenaran haruslah digabung di antara subyek dengan obyek. Obyek diberi kesempatan mempekenalkan dirinya kepada subyek yang mengamati, sesuai dengan semboyan zurukh zu den schen selbs (kembalilah kepada bendy-bendy sendiri).

b.Tiga jenis Reduksi
Reduksi ftnomenologis, yaitu menyingkirkan segala se¬suatu yang subyektif digantikan dengan sikap obyektif, yaitu gejala-gejala harus diajak berbicara
Reduksi eiditis, yaitu menyingkirkan segala pengeta¬huan tentang obyek yang bukan intisari (eidis = inti sari), selain intisari harus dikesampingkan atau mem¬buatnya dalam kurung, sehingga diketahui gejala-ge¬jala yang hakiki (intisari)
Reduksi fenomenologi transendental, yaitu mengembali¬kan intisari itu
2. Max Scheler (1874-1928)
Menurutnya, agama dan filsafat merupakan dua entitas otonom sesuai dengan posisinya. Kendati memiliki otonomi eksklusif, namun di antara keduanya memiliki keterikatan. Misalnya, dengan memahami metafisis dalam filsafat tidak serta merta dapat memahami konsep metafisika agama, karena keduanya memiliki aktus kodrati yang berbeda.21 Sebab itu kebenaran agama hanya dapat diterima atas dasar kepercayaan religius, bukan ke¬benaran metafisis-filosofis.

7. Eksistensialisme

Tokoh dan Pemikirannya
1. L. Feuerbach (1804-1872)
Sebagai filsuf eksistensialis, Feuerbach berupaya me¬ngangkat eksistensi manusia sebagai satu-satunya yang berkesistensi, sehingga berkesimpulan bahwa manusialah satu-satunya yang bereksistensi. Semboyannya ialah:
Homo HotiiirtiDeus
Manusia itu Tuhan bagi manusia.
Sesuai dengan teori proyeksi,melalui ungkapan ini Feuerbach meyakinkan bahwa Tuhan adalah ciptaan manusia, bukan sebaliknya, Tuhan yang menciptakan manusia. Kelanjutannya, manusialah yang menciptakan agama (man makes religion, doesn't religion makes man).
Konsekuensi dari pemikiran ini ialah, Feuerbach menggan¬tikan teologi dengan antropologi. Di dalam bukunya ten-tang Hakikat Agana, Feuerbach mengatakan:
“Tugas filsafat ialah mengubah sahabat-sahabat Tuhan menjadi sahabat-sahabat manusia, mengubah kaum beriman menjadi pemikir, mengubah orang-orang yang beribadah menjadi orang yang. bekerja, mengubah talon-talon untuk syurga menjadi murid-murid dunia ini, mengubah orang Kristiani yang .menamai dirinya sendiri separuh malaikat, separuh binatang menjadi manusia seratus persen”.
Pemikiran ini menghantarkan Feuerbach menjadi seorang eksistensialis-ateis, yaitu menaikkan manusia ke tangga tingkat tinggi eksistensi dengan menjatuhkan Tuhan pada anak tangga paling bawah, sehingga mengklaim hanya manusialah satu-satunya yang berkesistensi.
2. Soren Kierkegard (1813-1855)
sebagai tokoh eksistensialisme teis, yaitu berupaya nw¬ngangkat eksistensi manusia tanpa harus membuang jauh Tuhan dari kehidupan manusia. Ungkapannya ialah: "Saya menjadi sebagaimana saya ada".
Menurut Kierkegard, ada tiga cars yang bisa dilakukan di dalam upaya bereksistensi. Pertama, mengembangkan si¬kap estetis. Sikap estetis diperankan oleh Don Juan, yang berupaya menikmati sebanyak mungkin kebebasan sesuai dengan perasaan kemanusiaannnya. Kedua, mengem¬bangkan sikap etis. Sikap ini diperankan oleh Sokrates, yang dalam pemenuhan kemanusiaan senantiasa komit¬men terhadap aturan-aturan moral dalam kehidupan. Ketiga, mengembangkan sikap religius, yaitu di dalam ke¬hidupan keterkaitan dengan ajaran agama dan kedekatan kepada Tuhan menjadi panduan di dalam bereksistensi. Hal ini sesuai dengan paradigms eksistensialisme teis, se¬makin saya mempercayai Tuhan maka semakin dalam ek¬sistensi saya.

8. Pragmatisme
Pragmatisme merupakan filsafat khas Amerika karena aliran ini muncul dari kehidupan dan pengalaman An,,crika.28 t.,,jmun demikian, dalam bentuk yang praktis (etika) paham yang sejalan telah muncul di Yunani dalam bentuk aliran Utilitarianistne, yaitu paham bahwa ukuran baik buruk ditentukan oleh ads tidaknya manfaat dari perbuatan tersebut.
Tokoh dan Pemikirnya
1. William James (1842-1910).
Sebagai pendiri pragmatisme, pemikiran terpentingnya ialah mengenai makna pragmatisme. Seperti dijelaskan di atas bahwa pragmatisme merupakan filsafat ala Amerika yang berciri pragmatic. Orang Amerika tidak puss dengan filsafat teoritis yang bertanya "apa itu", tetapi memasuki filsafat praktis yang bertanya "apa gunanya". Sistimatisasi dari jenis kedua inilah yang melahirkan filsafat pragma¬tisme. Oleh karena itu, dikaitkan dengan aliran rasionalisme dan empirisme, pragmatisme berada di antara dua Ohimi tersebut. Dalam kaftan ini William James berkata:
Aku menyajikan aliran pragmatisme yang namanya aneh ,sebagai suatu filsafat yang dapat memuaskan dua macam kebutuhan. Pragmatisme yang dapat tetap bersifat religius seperti Rasionalisme, tetapi pada waktu yang sama, ia sangat memperhatikan fakta whigainiana aliran Empirisme.
2. John Dewey (1859-1952).
Beliau adalah filsuf pemalu tetapi meggemparkan dunia. Kehebatan Dewey digambarkan oleh majalah The Social Frontier (May-June, 1937), dengan ungkapan berikut:
Plato dan Aristoteles memberikan ekspresi kepada tingkat ke¬budayaan Yunani. Thomas Aquinas membawa tradisi Aristoteles dan Paul yang selalu Baling menyerang di Eropa abad Pertengahan sehingga menjadi bentuk yang dapat digunakan. Francis Ba¬con, berdiri di ambang pintu abad ke 17 menggambarkan peta yang komprehensif tentang perobahan ilniiah yang barn niulai. Immanuel kant dua abad kemudian, tnerancang gambaran dunia yang memberikan tempat yang terhormat bagi sains fisik dan aspirasi etika pada zamannya. Dengan ukuran yang sama, John Dewey telah menciptakan filsafat bagi masa sekarang, masa evolusi dan yang lahir terlalu pagi dari evolusi, yaitu teori rela¬tivi tas.
Sebagai pelanjut James, pemikiran terpenting John Dewey ialah mengenai kemerdekaan, kemauan manusia, dan tata nilai kehidupan. Ketiga pemikiran tersebut tertuang dalam ungkapan singkat John Dewey berikut:
Terdapat hal-hal yang baik secara konkrit dan eksprimental nilai ¬nilai seni dalam segala bentuknya, nilai-nilai pengetahuan, nilai usaha serta nilai istirahat setelah kerja keras, nilai pendidikan dan masa persaudaraan dan cinta, dan nilai pertumbuhan jiwa dan badan. Hal yang baik tersebut ada, tetapi hal itu merupakan benih-benih. Banyak orang yang tidak dapat berkesempatan un¬tuk berkecimpung di dalamnya, terdapat kekuatan-kekuatan yang dan rnengisap hal-hal yang baik untuk menghalangi tersiarnya. Konsepsi yang jelas dan mendalam tentang persatuan makna-makna yang ideal dengan kondisi-kondisi nyata, dapat membangkitkan emosi yang kuat.


PENUTUP
KESIMPULAN
Demikianlah beberapa aliran filsafat yang muncul di Barat modern. Dari uraian tersebut dapat disimpulan bahwa filsafat Barat memiliki perbedaan dengan filsafat lainnya, yaitu Yunani, India, Kristen, Islam dan Yahudi. perbedaan tersebut muncul dalam ontologi, epistemologi dan aksiologi filsafat.
Secara ontologi, filsafat Barat memiliki karakter yang antro¬posentrik, berbeda dengan corak lainnya yang cenderung teosen¬tris, termasuk Yunani. Di Yunani, filsafat memang lahir sebagai reaksi terhadap agama (mistis), namun agama menjadi bagian penting dalam kajian filsafat, dan filsufnya tetap komitmen de¬ngan agama.
Karakter ontologi di atas terkait dengan epistemologi filsa¬fat Barat modern. sebagai imbas dari penekanan pada manusia sebagai puncak, bukan pada Tuhan, seperti pada filsafat lainnya (Yunani, India, Yahudi, Kristen, dan [slam), maka pemikiran bersumber dari manusia. Manusia adalah sumber, sumber many filsafat dialirkan. Begitu jugs terjadi perbedaan secara aksiologis. Filsafat Barat modern lebih ditujukan pada upaya penggambaran dunia apa adanya secara radikal dan bebas, sesuai dengan seman¬gat bid ividu alisme, rasionalisme, ateisme, dan lain-lain, tanpa terkait dengan nilai agama yang inheren dalam kehidupan pada masanya.
Bahkan, dengan semangat, yang cenderung tak terkenclah ini, ada kecenderungan bahwa filsafat diarahkan pada upaya pembongkaran agama (pemberontakan terhadap agama), seperti yang ditampilkan oleh aneka aliran di atas, sejak rasionalisme sampai pragmatisme. Trcnd ateisme (tidak lagi mempercayai Tuhan) merupakan fenomena yang muncul di dunia Barat mo¬dern, termasuk dari katangan ilmuwan. Hal ini berbeda dengan semangat filsafat lainnya, bahwa filsafat diarahkan pada upaya penguatan agama dalam kehidupan manusia, sehingga diu¬payakan kehadirannya menjadi bagian inheren manusia yang tak terlepaskan.

DAFTAR ISI:
PENDAHULUAN 1
ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT MODERN 2
1. Rasionalisme 2
1.Rene Descartes (1596-1650) 2
2. Spinoza (1632-1677) 2
2.Empirisme 2
1.john Locke (1632-1704) 3
2. David Hume (1711-1776) 3
3. Immanuel Kant (1724-1804) 3
3. Idealisme 4
1. Johann Gottlieb Fichte (1762-1814) 4
2.Friedrich Wilhelm josep Van Schelling (1775-1854) 4
3.Hegel (1770-1831) 5
4. Materialisme 5
1. A g a m a 6
2. Masyarakat 6
5. Positivisme 7
1.Auguste Comte (1798-1857) 7
6. fenomenologi 8
1. Edmund Husserl (1859-1938) 8
2. Max Scheler (1874-1928) 8
7. Eksistensialisme 9
1. L. Feuerbach (1804-1872) 9
2. Soren Kierkegard (1813-1855) 9
8. Pragmatisme 10
1. William James (1842-1910). 10
2. John Dewey (1859-1952). 11
PENUTUP 12
KESIMPULAN 12
DAFTAR ISI: 13
Poskan Komentar